Welcome To My Blog

I Blog For Pleasure

Selasa, Februari 19, 2013

Pasangan Berkeliling Dunia dengan Sepeda, Tewas di Thailand

Sepasang warga negara Inggris yang sedang melakukan perjalanan keliling dunia dengan sepeda tewas karena kecelakaan di Thailand.

Peter Root dan Mary Thompson, yang mengabadikan perjalanan mereka dalam sebuah blog, meninggal Rabu pekan lalu saat tertabrak truk pick-up di sebuah provinsi di timur Bangkok, menurut kepolisian Thailand, Senin kemarin.

Pasangan tersebut yang sama-sama berusia 34 tahun berasal dari Guernsey di Kepulauan Channel. Mereka meninggalkan Inggris pada Juli 2011 dan telah bersepeda melewati Eropa, Timur Tengah, Asia Tengah, dan Cina.

Perjalanan tersebut adalah pengalaman sekali seumur hidup buat pasangan yang bertemu saat bersama-sama menjadi mahasiswa seni. Mereka menabung dan merencanakan perjalanan tersebut selama enam tahun, kata ayah Peter, Jerry Root pada Associated Press pada sebuah wawancara.

"Keduanya adalah inspirasi," kata Jerry Root. "Mereka tak hanya ngomong, tapi mereka melakukan sesuatu. Saya sangat bangga dengan mereka."

Menurut Root, Peter dan Mary adalah pesepeda berpengalaman yang menyadari risiko dan kesulitan dari perjalanan bersepeda dalam waktu lama.

"Mereka berkemah dengan bebas. Kesedihan saya berkurang ketika saya memikirkan betapa mereka bahagia dengan satu sama lain. Mereka menjalani kehidupan yang mereka inginkan. Kehidupan yang sangat bahagia, sangat bermakna."

Peter dan Mary sering mengirimkan foto dan detil perjalanan mereka lewat situs Two on Four Wheels. Mereka juga punya banyak follower di Twitter dan Facebook yang mengikuti perjalanan mereka serta menikmati petualangan duo ini sampai ke bagian paling terpencil di Asia Tengah.

Video yang mereka unggah ke situs menampilkan mereka berkemah di gurun pasir, bersepeda di perbukitan, berhenti untuk berenang di sungai dan danau, serta berpacu di tengah badai salju berat. Mereka juga bersepeda melewati situasi politik gentik di tengah konflik bersenjata di Tajikistan.

Ada juga video yang menunjukkan Mary Thompson mengalami luka di lututnya setelah tabrakan dengan truk. Kulit mereka terlihat coklat, wajah keduanya tampak bahagia dan santai -- meski agak berantakan karena angin -- dalam video-video tersebut. Tampak jelas bahwa mereka sangat menikmati kehidupan di jalanan.

"Mereka tak pernah membicarakan perjalanan ini akan berakhir di suatu tempat, atau kapan akan selesai," kata saudara laki-laki Mary, Ben Thompson. "Mereka tak punya rencana tetap, hanya gambaran kasar. Mereka suka bertemu orang-orang. Mereka sering mengajak orang ke api unggun untuk berbagi cerita, bir, dan makanan."

Setelah Asia Tenggara, pasangan ini berencana menuju Selandia Baru untuk beristirahat sebentar.

Menurut polisi Thailand Letkol Supachai Luangsukcharoen pada hari Senin, para penyelidik menemukan jenazah mereka, dua sepeda, dan barang-barang mereka tersebar di pinggir jalan, begitu pula dengan truk pickup yang ada di antara pepohonan.

Pengemudi truk, Worapong Sangkhawat, 25, juga terluka berat dalam kecelakaan tersebut. Kata Supachai, truk yang dikendarai Sangkhawat menabrak dua pesepeda tersebut saat ia sedang mengambil topi yang terjatuh dari lantai mobil.

Si pengemudi dilepaskan dengan jaminan dan kini menghadapi tuntutan menyebabkan kematian karena mengendarai mobil secara berbahaya. Hukuman maksimalnya adalah 10 tahun di penjara.

Jenazah pasangan ini disimpan di unit penyelamatan di Chachoengsao, 30 km timur Bangkok, sebelum dipulangkan ke Inggris.

Source : Here and Here
Read More..

Sabtu, Februari 09, 2013

Helpless Love

Once upon a time all feelings and emotions went to a coastal island for a vacation. According to their nature, each was having a good time. Suddenly, a warning of an impending storm was announced and everyone was advised to evacuate the island.


The announcement caused sudden panic. All rushed to their boats. Even damaged boats were quickly repaired and commissioned for duty.


Yet, Love did not wish to flee quickly. There was so much to do. But as the clouds darkened, Love realised it was time to leave. Alas, there were no boats to spare. Love looked around with hope.

Just then Prosperity passed by in a luxurious boat. Love shouted, “Prosperity, could you please take me in your boat?”

“No,” replied Prosperity, “my boat is full of precious possessions, gold and silver. There is no place for you.”

A little later Vanity came by in a beautiful boat. Again Love shouted, “Could you help me, Vanity? I am stranded and need a lift. Please take me with you.”

Vanity responded haughtily, “No, I cannot take you with me. My boat will get soiled with your muddy feet.”

Sorrow passed by after some time. Again, Love asked for help. But it was to no avail. “No, I cannot take you with me. I am so sad. I want to be by myself.”

When Happiness passed by a few minutes later, Love again called for help. But Happiness was so happy that it did not look around, hardly concerned about anyone.

Love was growing restless and dejected. Just then somebody called out, “Come Love, I will take you with me.” Love did not know who was being so magnanimous, but jumped on to the boat, greatly relieved that she would reach a safe place.

On getting off the boat, Love met Knowledge. Puzzled, Love inquired, “Knowledge, do you know who so generously gave me a lift just when no one else wished to help?”

Knowledge smiled, “Oh, that was Time.”

“And why would Time stop to pick me and take me to safety?” Love wondered.

Knowledge smiled with deep wisdom and replied, “Because only Time knows your true greatness and what you are capable of. Only Love can bring peace and great happiness in this world.”

“The important message is that when we are prosperous, we overlook love. When we feel important, we forget love. Even in happiness and sorrow we forget love. Only with time do we realize the importance of love. Why wait that long? Why not make love a part of your life today?”

Author Unknown
Read More..

Google Celebrating Chinese New Year With Snake Game

This time Google celebrating Chinese New Year 2013 with is known as Year of Snake with a game Snake. This is interesting because the game allow the user to interact to beat the high score as high as possible under given time. In this game, you do not have to worried about your live. Because, your snake won't die but simply get dizzy or being lazy to crawl around when eat certain food / item. And for you who also celebrating, Happy Chinese New Year 2013.
Read More..

Selasa, Februari 05, 2013

Desa HuaXi Desa Terkaya di China


Huaxi, terletak sekitar 100 mile disebelah utara Shanghai, sudah menggandakan tujuh ikon dari landmark dunia untuk 2,000 penduduknya yang tidak pernah berlibur.

kebanyakan dari kita, bisa melihat landmark yang paling terkenal di dunia adalah sesuatu yang kita inginkan. Namun untuk warga desa terkaya di China, sudah ada kesempatan untuk melihat situs-situs ikonik ini setiap hari, tanpa pernah menginjakkan kaki di pesawat.

hal ini bisa karena desa Huaxi di provinsi Jiangsu China, sudah menjadi rumah dari replika tujuh bangunan dunia yang paling terkenal. dari Patung Liberty, Arc de Triomphe, Great Wall of China, Tiananmen rostrum dan Sydney Opera House.


Wu Renbao, mantan kepala desa Huaxi yang sejak digantikan putranya Wu Xie'en, datang dengan ide ini saat ia ingin membawa dunia kepada penduduk Huaxi, yang dituntut untuk bekerja tujuh hari seminggu untuk mempertahankan gaya hidup 'mewah' mereka.

Desa Huaxi bukanlah sembarang desa. disini semua penduduknya mendapatkan fasilitas kesehatan, pendidikan dan minyak goreng yang semuanya tidak dikenakan biaya. dan mobil impor dan rumah keluarga mewah, disumbangkan oleh komite desa. Tapi ada beberapa syarat: warga harus bekerja melalui akhir pekan, menginvestasikan uang mereka kembali ke Huaxi dan mereka yang meninggalkan desa kehilangan semua keuntungan mereka.

Desa Huaxi, sepertinya bisa membuktikan kepada dunia, sebagai desa terkaya di seantero China, bahkan mungkin di dunia.

Desa yang terletak di Provinsi Jiangsu tersebut memiliki bangunan pencakar langit (skyscraper) yang masuk dalam 15 gedung tertinggi di dunia, hingga transportasi publik yang bukan lagi mobil atau bus, melainkan helikopter.

Tahun lalu, desa ini memamerkan kekuatan ekonominya dengan membuka secara resmi gedung pencakar langit, Hanging Village of Huaxi. Gedung ini memiliki tinggi 328 meter.

Menara ini ada di peringkat ke-15 pencakar langit tertinggi di dunia. Posisinya lebih tinggi dari Menara Eiffel di Paris dengan tinggi 324 meter.

Dikutip Daily Mail, Minggu (12/08), pembangunan menara dengan 74 lantai ini memakan waktu hingga empat tahun. Menara berupa hotel dan hunian ini memakan biaya hingga 301 juta poundsterling.

Beberapa pihak membandingkan menara ini seperti trofi Piala Dunia, karena bagian puncaknya berbentuk bola kaca. Sementara pihak lain mempertanyakan kelanjutan menara ini mengingat lokasinya di Huaxi Village.

Dana untuk pembanguannya sebagian besar berasal dari warga desa, yang merayakan hari ulang tahun desanya ke-50 di saat yang bersamaan dengan pembukaan gedung tersebut secara resmi. Tiap warga memberikan uang sebesar 10 juta poundsterling.

“Bangunan ini merupakan simbol kolektivitas. Bangunan ini memiliki 800 kamar suite dan dapat menampung sekitar 2.000 orang. Ada sebuah ruang pameran, restoran berputar, kolam renang atap, dan kebun,” jelas Wakil Ketua Partai Desa Zhou Li.

Di lantai 60 ada pemandangan yang menakjubkan dan patung seekor sapi jantan yang dibuat dari satu ton emas. Tujuan utama dari pencakar langit ini adalah mengurangi beban mengingat desa ini memiliki sumber daya lahan yang terbatas.

Diharapkan juga hal ini akan membantu meningkatkan standar hidup rakyat Huaxi. Desa ini telah berubah secara signifikan selama 30 tahun terakhir dari desa miskin menjadi lokasi favorit berbagai perusahaan dan simbol pertumbuhan ekonomi negara.

Kini, desa Huaxi menarik para pebisnis di bidang shipping, tembakau, baja, dan tekstil. Warga di Huaxi Village pun bisa menikmati perawatan kesehatan dan pendidikan gratis.

Selain menara supertinggi dan patung lembu dari emas dengan nilai USD50 juta, kini Huaxi Village memiliki layanan taksi baru berupa helikopter.

Helikopter akan membawa para penumpang dari Huaxi Village di Provinsi Jiangsu, China Timur ke kota-kota di sekitarnya selama 10 menit. Helikopter ini dioperasikan perusahaan Tongyong Airline Company.

Huaxi, yang menjadi pusat pariwisata dan teknologi baru, disebut sebagai desa dengan warga jutawan di China.

“Penumpang kami harus sampai di tempat tujuan dalam waktu cepat. Jika mereka tidak menggunakan jasa kami, mereka tidak akan berada di kereta. Itu karena mereka menggunakan helikopter sendiri,” jelas juru bicara perusahaan.

Desa dengan penduduk 2.000 jiwa ini telah lama dikenal sebagai desa terkaya di China. Bahkan setiap warganya memiliki simpanan setidaknya USD250 ribu di bank.
Read More..